Wardatina Mawa Sebut Insanul Fahmi 3 Bulan Tak Kirim Nafkah Anak
Wardatina Mawa kembali angkat bicara mengenai nasib anaknya. Kali ini, ia dengan tegas menyebut ayah dari anaknya, Insanul Fahmi, telah lalai selama tiga bulan terakhir. Wardatina Mawa tidak tinggal diam melihat kewajiban yang diabaikan begitu saja. Ia mengungkapkan kekecewaannya melalui pernyataan yang jelas dan penuh penekanan, serta menuntut kejelasan atas hak anak yang seharusnya terpenuhi.
Kronologi Pengabaian yang Membuat Geram
Pada awal pernyataannya, Wardatina Mawa menjelaskan bahwa komunikasi dengan Insanul Fahmi memang sudah renggang. Namun, ia tidak menyangka bahwa masalah finansial untuk anak akan sampai pada titik ini. Tiga bulan bukanlah waktu yang singkat. Selama periode itu, menurut pengakuannya, tidak ada satu pun transferan dana yang masuk untuk kebutuhan sang buah hati. Ia menceritakan bagaimana ia harus berjuang sendiri memutar otak memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Lebih lanjut, Wardatina Mawa menyoroti bahwa yang ia perjuangkan bukanlah untuk dirinya sendiri. Ia tegaskan bahwa uang nafkah tersebut mutlak hak anak, bukan untuk kepentingan pribadinya. Setiap kali ia mencoba menghubungi Insanul Fahmi, respons yang ia terima seringkali tidak memuaskan. Ada saja alasan yang dikemukakan, namun tidak pernah ada realisasi nyata. Hal ini membuatnya merasa sangat dipermainkan oleh keadaan.
Beban Berat di Pundak Wardatina Mawa
Di tengah situasi yang pelik ini, Wardatina Mawa mengaku harus menjalankan peran ganda. Ia harus menjadi ibu sekaligus ayah bagi anaknya. Aktivitasnya kini lebih padat dari sebelumnya. Setiap pagi, ia bangun lebih awal untuk menyiapkan segalanya. Setelah itu, ia pergi bekerja dengan harapan bisa menutup celah biaya yang ditinggalkan oleh Insanul Fahmi. Kelelahan fisik dan mental jelas terlihat dari raut wajahnya, namun ia berusaha tegar.
Ia juga menyampaikan bahwa kebutuhan anak terus meningkat setiap bulannya. Mulai dari susu formula, perlengkapan mandi, hingga tabungan untuk masa depan. Tanpa adanya kiriman dana rutin, semua rencana itu menjadi berantakan. Puncaknya, pada bulan ketiga ini, ia sudah tidak mampu lagi menutupi semua kebutuhan tersebut hanya dari hasil kerjanya sendiri. Ia merasa kewalahan dan memilih untuk bersuara di hadapan publik, bukan karena ingin menjatuhkan, melainkan karena ingin mencari keadilan untuk anaknya.
Pernyataan Tegas Mengenai Hak Anak
Dalam kesempatan tersebut, Wardatina Mawa menegaskan bahwa hukum di Indonesia jelas mengatur soal kewajiban orang tua terhadap anak. Ia berharap Insanul Fahmi segera sadar akan tanggung jawabnya. Ia mengingatkan bahwa mengabaikan nafkah anak bisa berujung pada masalah hukum yang lebih serius. Menurutnya, ada banyak pasal yang melindungi hak-hak anak dari kelalaian orang tua, dan ia tidak segan untuk menempuh jalur tersebut jika memang diperlukan.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa ia tidak menuntut hal yang berlebihan. Ia hanya ingin kepastian. Ia berharap ada itikad baik dari pihak Insanul Fahmi untuk duduk bersama dan membicarakan solusi terbaik. Rumah tangga mereka memang sudah berakhir, tetapi hubungan darah antara ayah dan anak tidak akan pernah putus. Wardatina Mawa menekankan bahwa anak mereka tetap berhak mendapatkan kasih sayang dan dukungan finansial dari ayahnya, apa pun status di antara mereka berdua.
Fakta di Lapangan yang Berkaitan dengan Nafkah
Menurut catatan yang ia miliki, Wardatina Mawa merinci secara gamblang perbedaan pengeluaran bulanan anak. Ia menunjukkan data sederhana bahwa biaya kebutuhan pokok anak mencapai angka yang cukup signifikan. Selama tiga bulan, akumulasi dari kekosongan nafkah tersebut menjadi angka yang sangat besar. Dengan begitu, ia ingin menunjukkan bahwa ini bukan isapan jempol belaka, melainkan sebuah realita pahit yang ia hadapi setiap hari.
Ia juga menjelaskan bahwa komunikasi terputus sepenuhnya sudah hampir dua minggu. Sebelumnya, percakapan hanya sebatas balasan singkat yang tidak substansial. Saat ini, ia bahkan tidak yakin apakah Insanul Fahmi membaca pesan yang ia kirim. Ketidakpastian inilah yang justru membuat keadaan menjadi semakin rumit. Wardatina Mawa mengaku sudah mencoba berbagai cara, termasuk meminta bantuan kerabat dekat untuk menjadi penengah, namun hasilnya tetap nihil.
Harapan di Tengah Keputusasaan
Meskipun diliputi kesedihan, Wardatina Mawa tetap menyimpan harapan. Ia berharap kesadarannya bersuara bisa menjadi pemicu perubahan. Ia ingin Insanul Fahmi membaca atau mendengar pernyataannya di media. Baginya, publisitas bukanlah sebuah ancaman, melainkan sebuah jembatan terakhir untuk menyampaikan pesan. Ia berharap sang ayah bisa tersentuh hatinya dan sesegera mungkin menghubungi keluarga untuk memenuhi kewajiban yang tertunda.
Di sisi lain, ia juga berharap masalah ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Ia tidak ingin berlarut-larut dalam pertikaian yang justru akan berdampak buruk pada psikologis anaknya nanti. Wardatina Mawa memahami bahwa anak-anak membutuhkan ketenangan dan contoh yang baik dari kedua orang tuanya. Oleh karena itu, ia berusaha untuk tetap tenang dan tidak emosional, meskipun di dalam hatinya ada rasa sakit yang mendalam karena pengabaian ini.
Ajakan untuk Mencari Solusi Bersama
Pada akhir pernyataannya, Wardatina Mawa mengajak semua pihak untuk melihat masalah ini secara proporsional. Ia meminta Insanul Fahmi untuk bersikap dewasa dan tidak lagi menghindar. Ia menekankan bahwa selalu ada jalan keluar jika ada kemauan untuk berkomunikasi. Ia pun memberikan saran agar nafkah anak bisa dibayarkan melalui sistem yang lebih transparan, seperti transfer bank langsung ke rekening atas nama anak, sehingga tidak ada lagi alasan untuk lupa atau tidak tahu.
Ia pun berpesan kepada para orang tua di luar sana agar selalu mengutamakan kepentingan anak di atas segalanya. Konflik dengan pasangan tidak seharusnya membuat hubungan dengan anak menjadi taruhan. Baginya, anak adalah prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar. Dengan berakhirnya pernikahan, tanggung jawab terhadap anak justru harus semakin diperkuat, bukan malah dilalaikan. Ia berharap kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi banyak orang.
Sebagai penutup, Wardatina Mawa menegaskan bahwa ia akan terus memperjuangkan hak anaknya sampai titik darah penghabisan. Ia tidak akan tinggal diam jika memang tidak ada itikad baik. Langkah hukum tetap menjadi opsi terakhir yang akan ia ambil jika semua jalur damai sudah mentok. Namun, ia bersumpah tidak akan pernah lelah untuk mengingatkan Insanul Fahmi akan kewajibannya sebagai seorang ayah. Karena baginya, hak anak adalah harga mati.
Baca Juga:
Ruben Onsu Pasang Badan saat Anaknya Dibully di Medsos

Wardatina Mawa secara tegas membantah tuduhan yang menyebutnya mempersulit mantan suami, Insanul Fahmi, untuk bertemu dengan anak mereka. Sebaliknya, melalui pernyataan resminya, ia justru mengungkapkan bahwa pertemuan antara ayah dan anak tersebut baru saja terlaksana. “Kemarin baru ketemu,” ungkapnya, menegaskan bahwa komunikasi dan koordinasi tetap berjalan.